Tulisan Pertama di Awal Tahun 2026: Cerita Dari Pengalaman sampai Bahas Anak?
Kamis, 1/1/2026 - Tulisan Pertama di Tahun 2026 (Pondok Aren, Tangerang Selatan)
Satu, sebuah angka simbolis yang selalu berarti permulaan. Di awal tahun ini gue berdoa semoga gue bisa lebih baik dari tahun sebelumnya, lebih semangat, lebih dimudahkan dan hoki banyak deh hehehehe...
Di
tahun baru ini, gue akan mencoba mencurahkan perasaan melalui tulisan, yang
barangkali ada yang berminat baca atau justru tak ada, atau tak ada yang
peduli, tak apa. Toh, setidaknya gue bisa bercerita melalui tulisan ini.
Sejujurnya, gue bingung juga mau mulai tulisan pertama dengan topik apa. Enggak
tahu ya kenapa kayaknya hidup gue banyak bingungnya, tapi ya bersyukur juga gue
masih hidup sampai detik ini. Terima kasih Tuhan.
Gue
akan mulai topik pertama tentang perbincangan mengenai anak, tiba-tiba saja
karena pengalaman gue hari ini, jadi membuat gue minat untuk membahas atau
bercerita terkait “anak”. Saat ini, usia gue baru menginjak kepala dua, ya..
dua puluh tahun, spesifiknya dua puluh lebih tiga bulan. Di usia yang menginjak
kepala dua ini, gue merasa sekali peralihan kehidupan dari remaja ke dewasa
awal, gue sudah mulai banyak pertanyaan di kepala gue berkaitan kehidupan ini,
salah satunya topik ini.
Jadi gini ceritanya, hari ini gue dan keluarga yang terdiri dari ua gue, teman ua gue, tante gue beserta anaknya, yang alias sepupu gue. Lalu kemudian anak tante gue yang satunya yang ikut juga yang memang dititipkan sama tante gue yang ikut trip ini, which is ya dua sepupu gue jadinya yang masih berusia enam tahun dan tujuh tahun. Beranjak dari ide ua gue yang mengajak untuk jalan di awal bulan awal tahun 2026 ini menggunakan transportasi umum (commuterline/krl) menuju Kota Tua, Jakarta. Gue dan keluarga mulai dari St. Jurang Mangu, yang sebelum naik juga kedua sepupu gue ini minta mampir ke minimarket St. Jurang Mangu, lalu ribetnya mereka dalam memilih mau beli ini, itu, dll. Yang akhirnya selesai juga, lanjut kita tap in masuk St Jurang Mangu, dari tap in sudah mulai menyebalkan di sini. Kami kan berjumlah enam orang, dua orang tap in dengan kartu dan sisanya empat orang gue yang pesan melalui go transit by Gojek. Sepupu gue yang berusia 7 tahun, sebut saja si “Sani”, gue suruh baris di awal ketika gue scan barcode, hijaulah dan bisa melewati mesin masuk krl.
Setelahnya gue suruh sepupu berikutnya yang berusia enam tahun, sebut saja si
“Ani”. Gue sudah tempel barcode masuk
melewati mesin masuk krl dan dipersilahkan melewati, nah, kampretnya si Sani
malah mainin mesinnya dari lokasi dia yang sudah masuk lewati mesin tap in, si
Sani ini bikin penghalang di mesinnya muter lagi yang harusnya Ani lewatin,
gara-gara dia mainin malah sudah hilang hijaunya. Kesel dong gue, wajar. Karena
posisinya rame banget dan antri pada mau tap in, ngeselin banget kan.
Sebenernya, kesalnya gue juga sama si Sani ini dari pas malem tahun baru, dia
ini tipikal anak kecil yang menurut gue enggak lucu, anaknya baperan, ambekan,
usil, playing victim (untuk anak seusianya, gue bener-bener merasa dia sangat
caper alias butuh perhatian banget gitu, tipikal anak usil, cengeng, dan merasa
dia yang paling tersakiti gitu lho, padahal dia sendiri yang usil dan bikin
kesel) kan kayak ngeselin banget ya.
Oke,
kita lanjut lagi ke momen berikutnya, di Krl ya. Dia menggerutu sepanjang
jalan, ngambek mulu ke tante gue yang bukan emaknya. Ya kayak yang gue bilang
tadi, dia itu dititipin ke tante gue yang ikut dalam perjalanan ini lah, dia
ikut karena lagi libur sekolah sekalian kayak jalan-jalan lah, emaknya mah beda
kota. Si sani ini juga tipe anak yang kelihatan cemburuan kalau orang lain yang
dapat perhatian lebih dari dia, dia kayak membuat trik caper (cari perhatian)
ke orang dewasa melalui ngambeknya yang gue kesel banget gitu.
Pokoknya
kejadian hari ini dari perjalanan ke Kota Tua dan arah balik lagi ke rumah itu
kayak penuh drama si Sani ini, yang bikin gue enggak suka sama anak kecil.
Kayak gue enggak tahu ya, kenapa anak seusia itu bisa terlihat begitu licik
begitu, dan ngeselin banget. Caper banget berasa, playing victim juga. Terus
gue jadi berpikir gini, kan dari tadi yang gue cerita memang belum secara
menyeluruh menjelaskan terkait tingkah-tingkah yang spesifiknya melalui cerita
ya. Tapi memang secara garis besar sifatnya begitu. Gue bertanya, “ini
sebenarnya dia anak kecil yang punya karakter begitu itu karena dari rumahkah
awalnya? Lingkungannya kah? Atau semuanya benar dan bikin dia jadi anak kecil
yang masuk kategori ngeselin banget?” gue masih bertanya sampai sekarang.
Melihat Sani, dan anak-anak lain yang gue temui di kereta tadi gue merasa
enggak ingin bila suatu saat nanti gue menikah, gue tak ingin memiliki anak.
Gue merasa beban moral, parenting orang tua itu pasti kan berat banget, apalagi
kalo kata sebuah teori yang mengatakan sebetulnya bayi yang baru lahir itu
semua sama, yang membedakan lingkungannya ketika dia bertumbuh, baik dari
lingkungan keluarga, lingkungan teman, dll. Tapi tetap yang paling krusial
awalnya dari lingkungan keluarga, dari bagaimana ia tumbuh, bagaimana ia
berkembang, bagaimana dia di ajarkan atau pengasuhan bagaimana yang dia terima.
Gue
enggak menyalahkan sepenuhnya Sani dengan dia punya karakter nyebelin di usia
dia saat itu, ya anak-anak memang kalau kata orang kan “namanya juga anak-anak”
tapi ya menurut gue anak yang usia tujuh tahun sih harusnya sudah ngerti gitu
sikap dasar apakah itu baik atau enggak. Gue mempertanyakan bagaimana orang
tuanya ngajarin sih, atau apa yang terjadi di rumah Sani sampai dia bisa punya
karakter jelek gitu.
Sejujurnya,
kalau bahas masalah anak kayaknya terlalu banyak deh bahasan yang berkembang
dan bisa diceritakan karena ya anak sendiri hadir di masyarakat kita selalu,
tidak pernah punah.. Ya mungkin bisa saja sih punah kalau semua orang childfree
tapi ya akhir jaman juga artinya karena enggak ada anak manusia lagi begitu
hahaha.. bisa habis ya populasi dan tak ada kehidupan.
Sebenarnya
melalui cerita gue dan tulisan ini pada intinya gue sih cuman mau bilang, anak
itu enggak pernah minta di lahirkan, enggak pernah minta hadir di dunia, anak
kan hadir karena memang orang tua yang ingin menghadirkannya baik secara
rencana maupun ada ya kebobolan, tidak sesuai rencana. Menurut gue, sebagai
bahan pertimbangan bersama dan ajakan untuk berpikir saja sih, anak itu
sepenuhnya tanggung jawab orang tua yang sudah melahirkan dia ke dunia ini,
menjadikan dia ada. Jadi kayaknya sebelum mau punya anak memang ya harus siap
sih orang tuanya dari segi ilmu, baik parenting atau pengasuhan, segi ekonomi
yakni finansial yang stabil dan semua hal yang seharusnya dipersiapkan sebaik
mungkin untuk anak yang mereka (merujuk pada orang tua) mau dan inginkan untuk
hadir.
Gue
merasa banyak hal yang orang lupa dan luput antara anak dan orang tua,
khususnya di budaya timur, spesifik negara kita ini, Indonesia. Orang-orang
lupa kalau esensi mereka sebagai orang tua itu harus mengupayakan dan
mempersiapkan sebaik mungkin aspek dan segi yang tadi gue bilang (Ilmu
parenting/pengasuhan yang benar, ekonomi stabil dll). Di negara kita justru ya
orang punya anak karena memang terlihat sebagai keharusan yang hadir dalam
pendapat masyarakat. Sehingga banyak muncul pertanyaan,
“Kapan
punya anak?”
“Kapan
tambah anak?”
Dan
banyak kapan lainnya lagi yang sebenarnya juga orang lebih merasa tertekan atau
pressure karena pertanyaan orang lain, pertanyaan dan ekspektasi orang, bukan
berdasarkan kesiapan yang memang harusnya mereka pikirkan begitu.
Gue
tumbuh dari lingkungan yang kayak begitu, anak yang menjadi sebuah keharusan
ada atau terpaksa ada padahal belum mengupayakan hak nantinya si anak bila
lahir, terlalu terburu- buru dan pemikiran yang selalu “ah nanti juga ada
rezekinya, ah nanti juga ada jalannya” baru mikir itu setelah si anak ada. Ya
kan edan juga.
Kayaknya di bagian cerita pertama gue mau tulis itu saja, tunggu gue di tulisan lainnya, kalau lu merasa topiknya relate atau ada yang mau ceritakan, boleh diskusikan atau sampaikan di kolom komen ya.. Terima kasih telah membaca.
Salam
Hangat,
Filsa
Okau.
Komentar
Posting Komentar