Anak Laki-Laki Disuruh Kuat, Anak Perempuan Disuruh Nurut, Ayahnya Kemana?
Selasa, 6/1/2025 di Pondok Aren Tangerang Selatan
Dari kecil, gue hidup di
lingkungan dengan aturan yang kelihatannya simpel, tapi kalau dipikir-pikir,
absurd. Anak laki-laki disuruh kuat. Anak perempuan disuruh nurut. Udah. Titik.
Enggak ada penjelasan lanjutan, enggak ada ruang dialog, enggak ada panduan
hidup. Pokoknya begitu. Kayak hukum alam yang enggak boleh dipertanyakan.
Yang bikin gue kepikiran
sampai hari ini adalah satu hal: aturan itu teriak paling kenceng, tapi orang
yang harusnya ngejelasin justru paling sering absen. Ayah.
Gue enggak lagi ngomongin
ayah yang pergi, kabur, atau meninggal. Ini bukan kisah dramatis ala sinetron.
Ini cerita yang jauh lebih absurd dan diam-diam nyakitin: ayah yang ada, tapi
perannya kayak tombol mute. Ada secara fisik. Ada di rumah. Ada namanya. Tapi
fungsinya? Minim.
Kalau muncul, biasanya
cuma dalam dua mode: marah atau ngatur. Dan anehnya, pola ini dianggap wajar.
Normal. Bahkan dibela.
Di rumah gue dan di
banyak rumah yang gue lihat di lingkungan sekitar ayah bukan figur buat
ngobrol. Dia bukan tempat cerita, bukan tempat nanya, apalagi tempat pulang
secara emosional. Ayah lebih sering berdiri sebagai simbol kekuasaan.
Datang berarti suasana
langsung tegang. Bersuara artinya ada yang salah. Diam berarti semua orang
harus jaga sikap.
Dari situ, aturan hidup
diturunin ke anak-anak. Anak laki-laki jangan cengeng. Jangan lemah. Jangan
banyak ngeluh. Kalau capek, simpan sendiri. Kalau bingung, cari jalan sendiri.
Anak perempuan jangan banyak bantah. Jangan keras. Ikut aja. Nurutin orang tua.
Nanti juga ngerti sendiri.
Masalahnya, ngerti apaan?
Cara hidup enggak pernah
diajarin. Cara ngelola emosi enggak pernah dicontohin. Cara jadi manusia dewasa
yang sehat secara mental nyaris enggak pernah dibahas. Tapi tuntutannya tinggi
banget, seolah anak-anak ini otomatis tahu segalanya begitu gede.
Kadang gue mikir, lucu
juga. Anak laki-laki disuruh kuat, tapi enggak pernah diajarin gimana caranya
kuat tanpa jadi mati rasa. Anak perempuan disuruh nurut, tapi enggak pernah
dikasih ruang buat ngerti kenapa harus nurut dan sampai batas mana nurut itu sehat.
Yang ada cuma perintah
satu arah tanpa tanggung jawab emosional di belakangnya. Ayah datang pas
marah, tapi menghilang pas anak kebingungan.
Gue tumbuh dengan banyak
pertanyaan yang enggak pernah dapet jawaban dari bapak gue sendiri. “Gimana
caranya ngadepin dunia? Gimana caranya ngatur emosi? Gimana caranya jadi dewasa
tanpa berubah pahit dan dingin?”.
Enggak pernah ada sesi
ngobrol. Enggak pernah ada momen “sini bapak ceritain.” Yang ada cuma
kalimat pendek yang mematikan diskusi: “udah, jangan banyak mikir.”
Padahal, yang bikin anak
stres justru karena mereka enggak dikasih ruang buat mikir dan nanya.
Ironisnya, ketika anak akhirnya tumbuh tertutup, dingin, atau emosinya
berantakan, yang disalahin malah anaknya.
“Dasar susah diatur.”
“Sekarang anak-anak kurang ajar.”
“Zaman dulu enggak kayak gini.”
Ya iya, Pak. Zaman dulu
juga trauma enggak pernah diomongin.
Di lingkungan gue, pola
ini berulang tanpa banyak yang sadar. Bapak-bapak bisa lama nongkrong, ngobrol
soal kerjaan, politik, atau bola. Tapi jarang bahkan hampir enggak pernah ngobrol
soal anaknya sendiri.
Anaknya lagi kenapa? Enggak
tahu. Anaknya lagi sedih? “Ah, lebay.” Anaknya lagi butuh
ditemenin? “Nanti aja.”
Ayah hadir sebagai
otoritas, bukan sebagai figur emosional. Dan di titik ini, gue ngerasa sah buat
bilang: ini patriarki versi malas. Mau kuasa, mau dihormati, mau didenger, tapi
enggak mau repot ngurus sisi emosional yang ribet dan capek.
Gue pernah ngerasa asing
di rumah sendiri. Ngobrol sama bapak gue rasanya kayak ngobrol sama orang asing
yang kebetulan serumah. Basa-basi, formal, kaku. Kadang sampai kepikiran, ini
bapak gue atau harus gue tanya “Pak, asli orang mana?” WKWKWKWK.
Lucu, tapi juga sedih.
Setiap Lebaran, semuanya
jadi pura-pura hangat. Maaf-maafan, salaman, foto keluarga. Habis itu? Balik
lagi ke mode default: diam, asing, jaga jarak.
Dan ketika ada yang
mempertanyakan, jawabannya selalu sama: “Ya namanya juga bapak-bapak.” Seolah
kalimat itu pembenaran sakti yang bikin semua luka otomatis enggak sah.
Yang jarang dibahas
adalah dampaknya. Anak
laki-laki tumbuh dengan emosi yang dipendem. Marah tapi enggak ngerti sebabnya.
Capek tapi enggak tahu cara istirahat. Terlihat kuat di luar, tapi kosong di
dalam. Anak
perempuan tumbuh dengan rasa bersalah setiap kali punya pendapat. Takut
dibilang durhaka. Takut dibilang kurang ajar. Padahal cuma pengin dimengerti.
Sementara ayah tetap
merasa sudah menjalankan perannya. “Kan gue kerja.” “Kan gue cari nafkah.”
“Kan gue ada.”
Padahal, ada itu bukan
cuma soal badan. Ada itu juga soal hati.
Gue enggak nulis ini buat
nyalahin ayah gue doang. Gue sadar, banyak ayah lahir dari generasi yang juga
enggak pernah diajarin cara jadi ayah. Mereka juga korban pola lama. Mereka
juga tumbuh di rumah yang dingin dan minim dialog. Tapi ada satu hal yang harus
jujur diakuin: trauma yang
enggak disembuhin, pasti diwarisin. Dan capek banget kalau anak terus-terusan
disuruh maklum, sementara orang tuanya enggak pernah diajak belajar.
Anak laki-laki bukan
robot. Anak perempuan bukan properti. Dan ayah bukan cuma mesin ATM dengan nada
tinggi. Kalau mau dihormati, hadirlah. Kalau mau didenger, belajarlah dengerin.
Kalau mau anak lo kuat dan nurut, ajarin dengan contoh, bukan teriakan. Karena
yang paling ironis dari semua ini adalah: anak-anak dipaksa dewasa terlalu
cepat, sementara orang tuanya enggak pernah benar-benar tumbuh. Kalau ayah
masih ada tapi enggak pernah hadir, itu juga kehilangan. Dan kehilangan yang
paling sunyi adalah kehilangan yang enggak pernah diakui.

Komentar
Posting Komentar