Beda Keputusan? Ya Sudah Tak Apa, Itu Hidupmu!

Jumat, 2/1/2026 di Pondok Aren, Tangerang Selatan

Topik kedua ini gue bakal cerita terkait pilihan seseorang yang sering kali menjadi judging orang lain dan masyarakat karena khalayak menganggap itu adalah hal yang salah dan tidak sesuai dengan kebanyakan orang. Atau karena mayoritas percaya itu benar sehingga bila ada orang lain yang tak sesuai dengan mayoritas dianggap sesat.


Gambar By Google: Judging

Sering banget ada dalam pertikaian masalah agama biasanya, satu agama merasa lebih superior dan benar dibanding yang lainnya. Sebetulnya tulisan masalah agama itu sangat sensitif dan berisiko takut salah karena judgement tadi. Namun, toh namanya menulis pasti mencurahkan isi pikiran berdasarkan kepercayaan kita sendiri dan pendapat dalam mencurahkan perasaan, jadi tak apa.

Kita langsung saja masuk ke bahasannya. Baru-baru ini gue sedang merasa hilang arah, gue merasa tak bersemangat dalam melaksanakan perintah agama, atau gue merasa ingin mencari pelampiasan atas ketidakpuasan gue dalam menjalani kehidupan ini. Menurut yang bisa gue nilai dari diri gue sendiri, saat ini gue berada dalam fase berontak yang banyak faktor penyebab beberapa hal yang sudah lama menyinggahi isi kepala gue. Mulailah gue cari pelampiasan untuk buka kerudung, gue merasa juga fenomena tren berkerudung di Indonesia pun kebanyakan karena mayoritas fashion ke arah pakai kerudung, bukan karena mereka siap dan memang ingin memutuskan untuk pakai, kadang terbentuk ketika masa sekolah mereka, misal dari SMP, SMA, sehingga sampai saat ini banyak yang pakai kerudung toh karena terbiasa ketika masa sekolah, tidak dengan mereka memahami esensi sesungguhnya, panggilan hati atau kesiapan mereka berkerudung. Sehingga banyaklah kasus dan perkataan seperti,

“Orang pakai kerudung kok kelakuannya begitu” misal menipu orang, jadi maling, atau tindak kriminal lainnya.

Yang disalahkan jadi kerudungnya, bukan orang yang melakukannya. Kan kadang pun itu menjadikan orang yang berkerudung terkesan hanya menutupi rambut saja, bukan hatinya. Membuat persepsi jelek tentang orang berkerudung yang mayoritas hanya karena mereka terbiasa berkerudung namun hatinya belum siap.

Atau semisal juga kasus lain, kayak orang yang biasa pakai kerudung tiba-tiba ia memutuskan untuk membuka kerudungnya dan menampilkan rambutnya. Dihujat lah, dianggap lah ia kafir, dan hujatan lain-lain sampai kalau artis mungkin sampai menutup kolom komentar. Maksud gue, ya sudah saja enggak sih, mau lu hujat sedemikian rupa kalau itu orang memang lagi ada fase berontak tersebut, atau fase yang sampai memang dia lagi sampai pada fase itu, lu enggak usah judge. Biarlah jadi urusan dia dengan tuhannya. Untuk mengingatkan boleh, untuk hina sampai sedemikian rupa, ya ngapain gitu? Kan cuman ikut campur urusan orang saja jadinya. Biarlah keputusan dia begitu, biarlah jadi urusan dia dengan tuhannya, biarlah dia ada di fase itu, toh kehidupan dia memang ia sendiri yang jalani. Ada banyak faktor yang membuat dia di fase tersebut, entah karena memang dia kecewa, karena dia lelah atau capek banget, entah dia bingung harus bagaimana mengekspresikan kecewa atau sedihnya dia dengan cara dia butuh tampilan baru. Iya enggak sih?

Oke kalau mungkin jawaban lain untuk menimpali pendapat gue itu merujuk pada Al-Qur’an atau firman Tuhan melalui kitabnya tadi, yang wajib dan diharuskan menutup aurat- dan rambut tadi termasuk dalam aurat. Gue enggak mungkin mendebat perintah ini, dan tentu saja tujuan Tuhan baik untuk menjaga perempuan daripada kejahatan yang dapat dihasilkan karena itu. Namun, memang kadang jikalau orang ada dalam fase kecewa ataupun berontak ia akan sulit mikir ke arah agama, ia merasa hilang arah beragama, jadi ia berpikir dan mengekspresikan dirinya ke hal lain, kalau dalam kasus tadi misal jadi buka kerudungnya.

Karena menurut gue, orang kalau lagi mengalami fase capek, letih, tidak adil dalam hidupnya cenderung ia marah ke Tuhan, ia menyalahkan takdir hidupnya yang sambil menggerutu,

“Ah, hidup kok gini sih, hidup orang lancar-lancar saja, Tuhan jahat banget sama gue, gue mau protes sama Tuhan” misal dengan membuat gebrakan baru untuk dia protes mengenai kehidupannya yang sulit, berbeda, dan tidak lancar.

Secara lebarnya gue coba bedah satu persatu ya, ada fase dalam hidup di mana seseorang capek. Bukan capek fisik doang, tapi capek batin. Capek mikir, capek ngerasain, capek ngejalanin hari-hari yang rasanya gitu-gitu aja tapi beratnya kebangetan. Masalah keluarga datang, ekonomi ngehimpit, kegagalan numpuk, luka batin enggak kelar-kelar, dan rasa ketidakadilan hidup yang makin hari makin kerasa. Di titik itu, pelan-pelan orang bisa capek berdoa. Capek berharap. Capek bersabar. Doa yang biasanya jadi pegangan, sekarang rasanya kosong. Usaha yang udah dilakuin berkali-kali, hasilnya nihil. Dari situ muncul suara-suara kecil di kepala,
“Kenapa hidup gue begini?”

 “Atau emang Tuhan enggak adil ya sama gue?”

Dan lucunya, bentuk protes ke Tuhan itu enggak selalu lewat kata-kata. Jarang juga orang teriak langsung ke langit. Kebanyakan justru lewat tindakan. Tindakan yang kelihatannya sederhana, tapi sebenarnya simbol dari isi kepala yang lagi ribut.

Mulai menjauh dari ibadah.

Mulai ngelanggar aturan yang dulu dijagain mati-matian.

Atau kayak kasus yang sering banget kejadian: orang yang tadinya pakai kerudung, tiba-tiba mutusin buat buka.

Banyak yang langsung nyimpulin,

“Oh imannya hilang.”

Padahal menurut gue, enggak sesimpel itu. Sering kali itu bukan soal iman yang lenyap, tapi jiwa yang lagi lelah. Emosi yang numpuk tapi enggak punya tempat buat keluar. Luka yang belum sembuh-sembuh. Dan kebutuhan paling dasar manusia: pengen didengerin, bukan dihakimi.

Dalam psikologi dan spiritualitas yang sebetulnya gue cari tahu dan tanya ke mbah kita alias chat gpt, sebagai teman curhat kita era sekarang, fase ini bahkan punya nama. Ada yang nyebutnya spiritual struggle, pergumulan iman. Ada juga yang nyebut faith crisis, krisis keimanan (Ini bukan sekadar istilah populer, dalam studi keagamaan dan psikologi agama, spiritual struggle atau crisis of faith (krisis keimanan) dipakai untuk menggambarkan perjuangan batin seseorang ketika makna hidup atau hubungan dengan Tuhan dipertanyakan secara mendalam. Atau istilah yang lebih puitis tapi nyesek: dark night of the soul, fase gelap dalam perjalanan batin seseorang. Istilah ini berasal dari St. John of the Cross, seorang mistikus Katolik abad ke-16, yang dalam karyanya Dark Night menjelaskan pengalaman batin ketika seseorang merasa kehilangan kehadiran Tuhan, mengalami kekeringan spiritual, kebingungan batin, dan keraguan yang sangat dalam sebagai bagian dari perjalanan menuju pemurnian batin. Kalau dilihat dari sumber akademik juga disebut sebagai bagian dari tradisi dan kajian mistik yang kemudian dipakai secara lebih luas untuk menjelaskan periode kehidupan yang berat, kosong, dan penuh pergumulan tentang makna dan iman.

Dan fase ini tuh manusiawi. Bisa kejadian ke siapa saja. Bahkan ke orang yang kelihatannya religius, rajin, taat. Dan yang sering orang lupa, fase ini enggak selalu permanen. Banyak orang justru setelah jatuh di fase ini malah nemuin versi iman yang lebih dewasa. Mengenal Tuhan bukan karena takut dosa, tapi karena sadar. Atau membangun ulang hubungannya sama Tuhan dengan cara yang lebih jujur, lebih personal, lebih manusia.

Makanya menurut gue, orang yang lagi ada di fase ini tuh enggak butuh ceramah panjang lebar. Apalagi hujatan. Yang mereka butuhin itu ruang aman. Ruang buat jujur sama dirinya sendiri. Ruang buat pulih tanpa ditarik-tarik paksa ke standar moral orang lain.

Karena ujung-ujungnya, kita enggak pernah bener-bener tahu apa yang lagi mereka lewatin. Kita enggak tahu seberapa besar kecewanya. Seberapa capeknya. Seberapa hancurnya sebelum akhirnya mereka ambil keputusan yang kelihatan “aneh” atau “salah” di mata banyak orang.

Dan menurut gue, hal paling dewasa yang bisa kita lakuin adalah berhenti sok tahu, berhenti judging, dan sadar kalau urusan iman seseorang itu bukan panggung buat pembenaran ego kita, tapi perjalanan sunyi antara dia dan Tuhannya.

Jadi pada intinya, sebagai sesama manusia gue hanya mengingatkan agar kita dapat saling mencoba mengerti saja, selama tidak merugikan kita, dan sebagai sesama manusia dalam batas mengingatkan itu sudah cukup, jangan sampai menghina dan membuat pertikaian lagi. Selama seseorang membuat keputusan berbeda dan keputusan itu tak merugikan orang yang lainnya, cukuplah kita dalam batas mengingatkan saja, jangan sampai jadi saling menjatuhkan. Toh, capek. Kadang urusan pribadi kita saja sudah ruwet, kenapa harus dibuat semakin ruwet dengan mengurusi orang lain yang bukan kewajiban dan ranah kita. Lagi pun, di Bumi ini sudah terlalu banyak pertikaian bukan? Bukankah lebih baik jika saling menghargai dan memahami saja sesama manusia. Semoga kedamaian selalu menyertai.

Akhir kata, semoga pembaca mendapatkan kebahagiaan selalu ya.

 

Salam Hangat,

Filsa Okau.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulisan Pertama di Awal Tahun 2026: Cerita Dari Pengalaman sampai Bahas Anak?

Katanya Gue Gak Feminin, Lah Terus?

Semua Dateng Ke Nikahan, Kecuali Kebahagiaan: Cerita Perjodohan Yang Tidak Benar-benar Dipilih