HARI PENUH KELUH KESAH: MELELAHKAN, SUNGGUH !
Selasa, 13 Januari 2026, sejujurnya adalah salah satu hari yang ingin cepat-cepat aku lewati. Hari yang penuh rasa jengkel, sakit, lelah, dan sedikit pelajaran tentang kesabaran.
Ceritanya, sehari sebelumnya
aku baru saja kembali dari Kabupaten Sukabumi, dari rumah tanteku. Badan masih
capek, pikiran belum sepenuhnya pulih, tapi aku ingat satu hal penting: hari
Selasa aku punya jadwal reading untuk short movie yang aku ikuti
dan aku berperan di dalamnya. Mau tidak mau, aku harus berangkat.
Masalah pertama muncul
bahkan sebelum hari Selasa itu benar-benar dimulai. Saat di perjalanan pulang
dari Sukabumi, aku baru sadar kalau pouch makeup beserta seluruh isinya
tertinggal di rumah tante. Panik? Jelas. Tidak mungkin rasanya datang ke reading
short movie tanpa makeup sama sekali. Jadi sebelum semua kekacauan
lain terjadi, pagi Selasa itu sebetulnya aku sempat menghubungi dua temanku
yang barangkali mereka dapat membantu aku untuk meminta makeup mereka. Namun sayang
sekali kedua temanku, yang satu mengabarkan kalau tidak di kota Tangerang Selatan, dan yang satu
sudah berangkat kuliah untuk UAS nya akhirnya aku berpikir dan aku cepat-cepat
ke Pasar dulu untuk beli makeup. Untunglah ada walau produk makeup ku yang
tertinggal tak dijual di Pasar, aku cari alternatif dengan produk lainnya yang
sama bagus. Ludeslah sekitar 150 ribu rupiah, demi tampil layak. Ya sudahlah,
aku pikir, namanya juga kebutuhan.
Belum selesai sampai di
situ.
Saat bersiap untuk
berangkat, aku menyadari sesuatu yang bikin lemas seketika: aku haid.
Pantas saja beberapa hari sebelumnya tubuh terasa tidak enak, perut sakit, dan
tenaga seperti habis. Jadilah aku harus siap-siap ulang, beli pembalut, dan
menunda keberangkatan yang seharusnya sudah dilakukan. Perutku rasanya ngilu
luar biasa sakit yang bikin wajah harus menahan ekspresi sepanjang waktu.
Hari itu seperti sengaja
bersekongkol untuk bikin aku semakin sebal.
Aku tidak ada yang mengantar
ke Stasiun Pondok Ranji, jadi akhirnya naik ojol. Sampai di stasiun, aku harus lari-larian
mengejar kereta ke arah Tanah Abang. Gerbong perempuan sudah di depan mata, dan
aku ngos-ngosan masuk ke dalamnya. Untungnya, masih sempat. Tapi perjuangan
belum selesai.
Di Stasiun Tanah Abang, aku
kembali harus berlari untuk mengejar kereta menuju Manggarai, dengan kondisi
perut yang semakin sakit. Akhirnya aku naik KRL ke arah Manggarai, lalu lanjut
hingga Stasiun Cikini. Janjian dengan kru dan pemain lain sebenarnya jam 14.00,
dan aku sudah OTW sejak jam set 11-an.
Sampai di Stasiun Cikini
sekitar jam 12 siang, kondisiku benar-benar tidak baik. Perut sakit, mual,
pusing, gejala haid yang lengkap. Sempat terpikir untuk mencari pusat kesehatan
di Stasiun supaya bisa berbaring sebentar, tapi niat itu aku urungkan. Aku
langsung menuju Taman Ismail Marzuki (TIM).
Awalnya aku ingin berjalan
kaki karena jaraknya hanya sekitar 1 KM menurut Google Maps, tapi
kondisi perutku tidak memungkinkan. Akhirnya aku pesan Grab dan tiba di
TIM sekitar jam 12-an. Aku sempat duduk-duduk di luar, bengong, mengatur napas
dan menahan sakit, sebelum akhirnya masuk ke dalam.
Ini adalah pertama kalinya
aku ke Taman Ismail Marzuki, dan jujur saja, kesan pertamanya bagus. Gedungnya
rapi, terstruktur, dan sistemnya tertata. Sebelum masuk, ternyata harus download
aplikasi JAKLITERA, scan barcode, lalu menyimpan barang di loker.
Makanan dan minuman berwarna tidak boleh dibawa masuk, semuanya harus ditinggal
di loker. Yang boleh dibawa hanya barang penting, dan bahkan disediakan tas
khusus untuk masuk ke Perpustakaan.
Aku hanya membawa HP,
dompet, naskah skrip, dan air putih.
TIM sendiri berdasarkan kata
yang memberitahuku memiliki beberapa gedung: Perpustakaan A, Perpustakaan B,
dan gedung teater. Gedung teater berbayar, tapi perpustakaannya gratis. Dan
sumpah, tempatnya nyaman banget. Tenang, bersih, dan bikin betah.
Aku tiba sekitar jam 1
siang. Tapi kemudian ada kabar bahwa reading diundur dari pukul 14.00
WIB menjadi pukul 15.00 WIB. Ya sudah, aku terlanjur menunggu. Lalu diundur
lagi. HUH.
Untuk mengisi waktu, aku mencari
buku sejak awal dan untungnya aku menemukan berlian untuk instingku yang saat
itu mencoba mencari buku secara acak:
“Tukang Sulap Itu Menghilangkan Panciku” (editor Sapardi Djoko Damono)
berisi kumpulan cerpen yang ternyata seru sekali. Aku membaca sampai halaman
107. Tapi waktu terus berjalan, dan perutku semakin sakit. Tadinya aku ingin meminjam buku tersebut, namun mengingat Taman Ismail Marzuki dan jarak yang lumayan membuatku ragu. Takut-takut kalau tiba-tiba aku tak sempat ke TIM lagi. Huhuh, karena tahu sendiri kadang aku ada di Kota A, kadang di Kota B, kadang di Kota Z
Sampai akhirnya, sekitar pukul
16.00 WIB, aku baru dijumpai oleh kru short movie tersebut.
Bayangkan posisiku:
sakit perut karena haid,
lemas,
belum makan sama sekali,
dan harus menunggu
berjam-jam.
Sampai akhirnya harusnya
dimulai pukul 15.00 WIB saja, mereka tetap telat. Akhirnya aku makan mie ayam
beserta es teh manis dulu saja depan gedung perpustakaan TIM yang banyak sekali
orang berjualan. Dan ya rasa mie ayamnya pun lumayan enak.
Jujur saja, hari itu aku kesal,
sedih, dan marah. Aku termasuk orang yang sangat menghargai waktu, jadi rasanya
seperti dikecewakan. Tapi ya sudahlah, aku bertahan.
Kru short movie
memulai kegiatan reading kami pada ya kisaran pukul 16.40 WIB yang
mereka juga sempat memberikan minum air mineral dengan nasi goreng pada pukul
17.30 WIB. Namun aku tak makan, karena aku sudah beli tadi dan kenyang. Aku berikan
saja pada salah satu kru.
Ketika memulai bagian aku akting,
sungguh aku sangat deg-degan karena adeganku harus menangis kejar sehingga
harus butuh waktu untuk mendalami karakter yang aku perankan. Alhamdulillah juga
aku bisa akting sesuai dengan yang diinginkan sutradara.
Akhirnya semua selesai
sekitar pukul 19.00 WIB. Aku diantar kembali ke Stasiun Cikini oleh salah satu
kru. Dan satu hal yang sangat aku syukuri hari itu: aku dapat tempat duduk di
kereta. Sesuatu yang mungkin terdengar sepele, tapi sangat berarti ketika tubuh
benar-benar lemas karena haid dan kelelahan.
Lalu, sudahmah ketika sampe di St. Pondok Ranji aku masih harus menunggu jemputan dan aku harus ke Kamar mandi Stasiun dulu karena ternyata kondisiku khawatir bocor pada celanaku karena menstruasi. Sebelum pulang pun aku dan seseorang yang menjemputku mencari makan terlebih dahulu, namun sayang banyak yang sudah tutup di malam itu. Ya sudah untungnya kami ada referensi dan memang sedang ingin makan seblak. Pas ketika di Tempat seblak ku sadari kakiku yang ternyata sedari siang sudah lecet karena aku mengenakan flatshoes sambil lari tanpa mengenakan kaos kaki. HUH, ada- ada saja. Sungguh, menyebalkan.
Hari itu sungguh melelahkan.
Tapi entah kenapa, tetap menjadi pengalaman yang akan aku ingat tentang sakit,
sabar, jengkel, dan sedikit rasa syukur di akhirnya.
Adapun beberapa dokumentasi aku di hari itu.
.jpeg)
.jpeg)


Komentar
Posting Komentar