Katanya Banyak Anak Banyak Rejeki? Banyak Tanggungan dan Tanggungjawab Kali!

Senin, 5/1/2026 di Pondok Aren, Tangerang Selatan

Hari ini gue mau cerita soal satu kalimat klasik yang entah kenapa masih hidup sampai sekarang:

“Banyak anak banyak rejeki.”

Entah kenapa ya, kalimat ini tuh kayak kebal zaman. Dunia udah maju, teknologi udah ke mana-mana, informasi tinggal buka HP, tapi mindset ini masih aja dipeluk erat sama sebagian orang. Dan jujur, makin ke sini, makin bikin gue bingung… sekaligus muak.

Ini bukan cerita jauh-jauh. Ini based on kenalan gue. Lingkungan gue. Kampung gue. Orang-orang yang gue lihat langsung kehidupannya, bukan cuma asumsi dari sosmed. Dan yang bikin gue geleng-geleng kepala adalah: banyak dari mereka yang masih denial.

Denial kalau kondisi finansialnya jelas-jelas enggak mampu. Denial kalau hidupnya ngos-ngosan. Tapi tetap keukeuh bilang,

“Tenang aja, banyak anak banyak rejeki.”

Lah rejekinya dari mana, bang? Dari udara?

 

Gambar Ilustrasi Ekspresi Penulis

Yang bikin hati gue keiris itu, di zaman sekarang di saat dunia udah maju, pendidikan makin terbuka, teknologi kesehatan ada masih ada orang yang punya anak lebih dari lima. Enam. Tujuh. Bahkan delapan. Dan gue mau lurusin satu hal dulu: punya banyak anak itu enggak salah, kalau lo mampu.

1.     Mampu secara finansial.

2.     Mampu secara mental.

3.     Mampu secara tanggung jawab.

Masalahnya, yang sering kejadian enggak begitu.

Yang kejadian justru gini: orang tuanya hidup pas-pasan, tapi anaknya banyak. Terus siapa yang akhirnya nanggung? Anak pertama. Anak kedua. Anak yang bahkan belum masuk usia dewasa. Anak yang harusnya fokus sekolah, main, belajar jadi manusia utuh, malah disuruh jagain adiknya. Disuruh ngerjain kerjaan rumah. Bahkan, pas udah mulai kerja, gajinya diarahkan buat biayain adik-adiknya.

 

Di titik itu, gue pengin nanya baik-baik tapi sambil nahan emosi:

“Peran lo sebagai orang tua di mana?”

Punya anak itu bukan cuma soal melahirkan. Bukan cuma soal “yang penting ada.” Anak punya hak. Hak atas pendidikan. Hak atas kesehatan. Hak buat hidup layak. Hak buat jadi anak, bukan jadi orang tua kedua.

Dan yang bikin gue makin naik darah adalah ketika semua ketidakmampuan itu dibungkus rapi pakai dalih agama.

“Banyak anak banyak rejeki.”

“Anak itu titipan Tuhan.”

“Rejeki udah ada yang ngatur.”

Iya, rejeki mungkin diatur. Tapi akal juga dikasih.

Teknologi juga dikasih.

Ilmu juga dibukain.

Sekarang tuh ada yang namanya KB. Keluarga Berencana. Bukan barang haram dari neraka. Bukan konspirasi barat. Tapi alat buat merencanakan hidup. Supaya anak yang lahir itu benar-benar bisa diurus, dirawat, dan dipenuhi kebutuhannya.

Tapi lucunya, ada aja yang bilang KB itu haram. Dikasih tahu baik-baik buat antisipasi kehamilan berikutnya, malah ngeyel. Padahal yang diajak mikir bukan soal menolak anak, tapi soal tanggung jawab.

Dan jujur aja, di titik ini, gue pengin ngomong kasar:

Goblok enggak sih?

Lo bilang KB haram, tapi lo biarin anak lo putus sekolah.

Lo bilang KB dosa, tapi lo enggak mampu ngasih makan yang layak.

Lo bilang banyak anak ibadah, tapi hak dasar anak lo enggak terpenuhi.

Lo kira itu enggak dosa?

Anak lo sakit, tapi enggak dibawa berobat karena “enggak ada uang.”

Anak lo pengin sekolah, tapi disuruh ngalah karena adiknya masih kecil.

Anak pertama lo kehilangan masa kecilnya karena harus jadi tulang punggung sebelum waktunya.

Itu bukan rejeki. Itu ketidakadilan yang diwariskan.

 

Yang paling bikin stres adalah: semua ini dianggap normal. Kayak udah budaya. Kayak “ya emang gitu dari dulu.” Padahal trauma juga bisa turun-temurun. Kemiskinan juga bisa diwariskan. Dan luka paling parah itu bukan yang kelihatan, tapi yang dipendem anak-anak yang enggak pernah diminta pendapatnya sebelum dilahirkan.

Gue enggak anti anak. Gue enggak anti keluarga besar. Tapi gue anti orang tua yang enggak bertanggung jawab tapi berlindung di balik kalimat suci. Agama itu soal amanah, bukan pembenaran.

Punya anak itu pilihan. Tapi menelantarkan anak, secara sadar itu kejahatan yang dibungkus normalisasi. Dan hari ini gue cuma pengin jujur sama perasaan gue sendiri:

Gue capek lihat pola ini, gue muak lihat anak-anak jadi korban, dan gue stres lihat orang dewasa yang enggak mau mikir panjang tapi paling kenceng ngomong soal takdir. Jadi, kalau lo belum mampu, enggak apa-apa berhenti dulu, kalau lo belum siap, enggak dosa nunda.

Yang dosa itu ketika lo maksa ego lo jalan, tapi anak lo yang harus nanggung akibatnya seumur hidup. Ya Enggak?



 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulisan Pertama di Awal Tahun 2026: Cerita Dari Pengalaman sampai Bahas Anak?

Katanya Gue Gak Feminin, Lah Terus?

Semua Dateng Ke Nikahan, Kecuali Kebahagiaan: Cerita Perjodohan Yang Tidak Benar-benar Dipilih