Tiga Tahun Pacaran, Inisiatif Masih Wacana WADUH !
Jumat, 16/1/2026 di Tangerang Selatan, Pondok Aren
Gue
selalu heran sama lelaki yang bisa dengan santainya bilang, “Gue enggak suka
diminta ini itu, gue orangnya inisiatif,” padahal kalau inisiatif itu makhluk
hidup, kemungkinan besar sudah dinyatakan hilang sejak awal hubungan, karena
tiga tahun pacaran tapi enggak pernah ada satu pun momen di mana dia bangun
pagi lalu mikir, “Hari ini gue mau bikin pacar gue seneng,” yang ada justru
hidupnya damai sentosa dalam mode nunggu, nunggu diajak, nunggu ditanya, nunggu
diputuskan, sambil tetap merasa dirinya dewasa karena enggak mau disuruh,
padahal kenyataannya dia bukan enggak mau disuruh, dia cuma enggak mau mikir.
Hubungan
mereka berjalan seperti ini: perempuan jadi planner, researcher, navigator,
sekaligus reminder hidup, sementara si lelaki berperan sebagai penumpang setia
yang duduk manis, ikut ke mana pun diarahkan, lalu entah dari mana datangnya
rasa percaya diri untuk mengklaim bahwa dirinya tetap berinisiatif, mungkin
karena di kepalanya, ikut datang itu sudah cukup dianggap usaha, padahal ikut
itu bukan inisiatif, itu nebeng, dan nebeng kok minta dipuji.
Masuk
ke soal hadiah, di sinilah komedi tragisnya dimulai, karena si lelaki merasa,
“Gue kan ngasih,” seolah memberi itu otomatis sama dengan peduli, padahal
barang yang dia kasih lahir dari logika tunggal bernama “menurut gue,” misalnya
dia yakin si perempuan bakal cantik pakai baju tertentu karena ibunya juga
pakai dan kelihatan pantes, seolah perempuan ini hasil fotokopi selera keluarga
pacarnya, tanpa pernah tanya, tanpa riset, tanpa mikir bahwa perempuan ini
bahkan enggak pernah suka, enggak pernah nyaman, dan enggak pernah mau pakai
itu, sampai akhirnya baju itu cuma jadi artefak karena hubungan yang gagal memahami,
tapi di kepala si lelaki, tugasnya sudah selesai karena niatnya kan baik.
Yang
bikin tambah panas adalah kontrasnya, karena di saat yang sama, si perempuan
justru memperlakukan hubungan ini seperti proyek yang benar-benar dipikirkan,
dia memperhatikan kebiasaan kecil si lelaki dengan detail yang nyaris obsesif,
tahu dia suka lihat jam tapi enggak punya jam tangan lalu membelikannya, tahu
sepatu itu-itu saja sampai kelihatan capek lalu menggantinya, tahu tas dan
dompetnya sudah minta pensiun lalu dibelikan yang baru, dan lucunya, semua itu
kepakai, disukai, bahkan dibanggakan, karena surprise kalau lo benar-benar
mikir, hasilnya memang nyampe.
Tapi
tentu saja, giliran ulang tahun si perempuan, logika itu mendadak menguap, dan
yang datang justru alat elektronik, hadiah yang terasa seperti dibeli sambil
mikir, “Yang penting kepake,” seolah ulang tahun perempuan adalah momen audit
fungsi, bukan perayaan perasaan, dan ketika si perempuan enggak melompat
kegirangan seperti di iklan, langsung muncul narasi pembenaran: uang terbatas,
masih kuliah, belum kerja tetap, sudah banyak habis buat dia, padahal si
perempuan enggak pernah minta berlian, mobil, atau hidup ala sosialita, paling
mentok minta es krim atau makanan sederhana, bukan salmon, apalagi sirip hiu
biru, tapi uang tetap keluar juga, hanya saja seringnya keluar tanpa empati. Dan di titik ini lelaki tersebut masih seolah menyalahkan si perempuan karena si perempuan ini, dia tak bebas menikmati masa muda dia yang harusnya dapat ia tabung uangnya untuk keperluan dirinya sendiri, seolah-olah si lelaki tersebut kayak membiayai hidup perempuan mati-matian, padahal si perempuan yang sering juga sama mengeluarkan uang untuk bersama tidak pernah menuntut, apalagi sampai keberatan atau mengungkit-ungkit. Selain pelit usaha, pelit juga pikiran, ya sulit juga ada hubungan dengan orang yang masuk kategori pelit.
Dan
puncak dari semua ini adalah ketika si perempuan dicap tidak bersyukur, seolah
masalahnya ada di kurangnya ucapan terima kasih, bukan di kurangnya usaha untuk
benar-benar mengenal, padahal bersyukur itu tumbuh alami kalau seseorang merasa
dilihat, bukan kalau dia cuma merasa dikasih barang yang salah alamat, dan di
titik ini si lelaki biasanya masih merasa dirinya korban, bingung kenapa
hubungan terasa dingin, padahal selama ini yang hangat cuma satu pihak yang
terus berusaha sementara yang lain nyaman hidup di klaim dan asumsi.
Kalau
ada lelaki baca tulisan ini lalu refleks pengen bilang, “Enggak semua lelaki
kayak gitu,” tenang, tulisan ini memang bukan buat semua lelaki, ini buat satu
tipe spesifik: yang merasa sudah cukup hanya karena hadir secara fisik, yang
merasa niat sudah setara dengan tindakan, dan yang baru sadar ada masalah
setelah perempuan berhenti bertanya, berhenti ngajak, berhenti berharap, karena
lucunya, kehilangan itu sering baru terasa setelah seseorang berhenti melakukan
semua hal yang dulu bikin hubungan tetap hidup.
Jadi yang si perempuan pasti ekspresi dia sebetulnya sudah begini:

Komentar
Posting Komentar